Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 April 2010

Mereka Hanya Tahu Sedikit Tentang Dunia

Tafsir Ayat
26/3/2010 | 11 Rabiuts Tsani 1431 H | Hits: 2.469
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
--------------------------------------------------------------------------------


وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (6) يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
dakwatuna.com - ”(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 6-7)

Ayat ini menurut Al-Qurthubi berbicara tentang kriteria umum orang-orang kafir atau kaum musyrik Mekkah yang hanya memperhatikan satu kehidupan saja, yaitu kehidupan dunia. Sehingga, siapapun yang bersikap demikian, tidaklah berbeda dengan orang kafir yang jelas mendapat kerugian di akhirat kelak. Mereka mengetahui kehidupan dunia sebatas untuk meraih kesenangan. Pengetahuan mereka tentang urusan duniawi justru disamakan oleh Allah swt. dengan orang-orang yang tidak tahu, karena pengetahuan seseorang yang terbatas hanya tentang dunia adalah sama dengan kebodohan. Bahkan ditegaskan dalam ayat di atas bahwa pengetahuan mereka tentang dunia pun sangat parsial, sebatas memahami sisi lahir dari kehidupan dunia yang luas ini, yaitu tentang kesenangan dan kenikmatannya saja, tidak tentang ujian, tanggung jawab, dan persoalan-persoalan penting dunia lainnya yang menghantarkan pada balasan baik di akhirat kelak.

Pemahaman seperti ini secara bahasa dapat dibenarkan seperti yang diungkapkan oleh Az-Zamakhsyari bahwa kata يَعْلَمُونَ adalah badal dari kata لا يعلمون sehingga keduanya bermakna satu, yaitu kebodohan dan ketidaktahuan. Demikian juga kata zahir dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa dunia harus dipahami dengan dua dimensinya secara komprehensif, yaitu dimensi lahir maupun dimensi batin. Dimensi lahir terbatas pada kesenangan dan kenikmatan dunia, sedangkan dimensi batin adalah esensi dunia sebagai tempat beramal menuju kebahagiaan hidup yang sesungguhnya di akhirat kelak. Kata ظَاهِرًا yang disebut dalam bentuk nakirah ‘indifinitive’ menunjukkan bahwa pemahaman mereka terhadap dunia pun masih parsial, tidak menyeluruh, apalagi tentang kehidupan pasca kehidupan dunia.

Kecaman Allah terhadap orang kafir –karena sikap mereka yang melulu hanya mengurusi dunia– tidak berarti bahwa urusan dunia tidak mendapatkan porsi perhatian sewajarnya. Pengetahuan orang kafir tentang dunia yang dikecam oleh Allah adalah karena pengetahuan mereka yang sempit, parsial dan tidak utuh. Sehingga, orang yang beriman harus memperhatikan sisi dunia secara komprehensif sebagai bagian dari mempersiapkan kehidupan akhirat yang lebih baik agar terhindar dari kriteria orang yang lalai yang disebutkan pada petikan terakhir ayat ini وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Lalai yang dimaksud dalam ayat ini yang dinyatakan dengan kata ‘ghafilun’ menurut Asy-Syaukani adalah dalam arti tidak memberi perhatian dan kepeduliaan tentang urusan akhirat, serta tidak mempersiapkan untuk menghadapi kehidupan tersebut dengan menjalankan ketaatan dan amal shalih sebagai bekal meraih kebahagiaan seperti yang mereka lakukan tentang urusan kehidupan dunia mereka. Dalam sebuah syair Arab disebutkan tentang konsepsi kebodohan dalam terminologi agama:

ومن البليّة أن ترى لك صاحباً … في صورة الرجل السميع المبصر
فطنٍ بكل مصيبة في ماله … وإذا يصاب بدينه لم يشعر
Dan dari kebodohan itu adalah kamu melihat seorang kawan

seakan ia seorang yang mendengar dan melihat

Ia sangat paham tentang musibah yang menimpa hartanya,

namun sangat disayangkan ia sama sekali tidak sadar tentang musibah yang menimpa agamanya

Sikap lalai terhadap urusan akhirat menurut Sayyid Quthb merupakan musibah bagi manusia yang beriman. Karena keimanan seseorang seharusnya akan membimbing dan senantiasa mengarahkan untuk juga memperhatikan dan mempersiapkan kehidupan akhirat. Karena, kelengahan terhadap akhirat akan menjadikan barometer sesuatu menjadi rancu. Segalanya diukur dengan ukuran material. Itulah bukti pemahaman yang sempit tentang kehidupan. Seorang yang memahami kehidupan akhirat akan mengubah pandangannya tentang dunia tidak melulu untuk memuaskan nafsu dan kesenangan materi semata. Tetapi, ia akan bersungguh-sungguh bekerja dan beramal untuk menyelamatkan diri di akhirat kelak. Inilah pertimbangan dan parameter yang benar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Dan jika seseorang telah lalai akan akhirat, pasti ia akan lebih melupakan Allah swt. Padahal Allah telah menegaskan, “Dan janganlah kalian seperti orang yang melupakan Allah, maka mereka berarti telah melupakan diri sendiri. Dan itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19). Oleh karenanya, Allah swt. menegaskan di ayat berikutnya tentang dua kelompok manusia, yaitu penghuni surga dan dan penghuni neraka sebagai perumpamaan bagi mereka yang hanya memperhatikan kehidupan dunia dengan mereka yang memiliki orientasi akhirat yang benar, dan itulah hakikat pemahaman yang komprehensif tentang kehidupan ini.

Sikap melalaikan urusan akhirat karena didominasi oleh perhatian yang besar tentang kesenangan dunia merupakan di antara ciri orang-orang kafir yang dikecam oleh Allah swt. Tentu penyebutan sifat mereka di dalam Al-Qur’an merupakan bahan pelajaran yang berharga bagi orang yang beriman agar tidak memiliki sikap seperti mereka. Karena jika tidak, tidaklah dikatakan orang yang beriman apabila hanya mementingkan urusan dunia dengan tidak memiliki kepedulian akan persiapan yang matang untuk kehidupan akhirat yang lebih kekal. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, Rasulullah saw. menyebutkan ciri orang yang cerdas, ternyata terkait dengan perhatian akan kehidupan akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan nafsunya dan hanya berangan-angan terhadap Allah (tidak beramal).”

Demikian pelajaran yang berharga tentang gambaran orang-orang kafir yang harus menjadi pembeda dengan orang yang beriman. Kehidupan dunia ini harus mendapat perhatian sewajarnya sesuai dengan tuntunan Allah swt., karena kehidupan dunia dapat menjadi potret akan keadaan kehidupan seseorang di akhirat kelak. Jika akhir kehidupan dunianya baik, maka begitulah kehidupan yang akan dijalaninya di akhirat kelak. Namun jika penuh dengan dosa dan kemaksiatan, maka tentu hukuman siksa dan azab menjadi makanan yang tidak akan berhenti selama-lamanya di akhirat kelak. Begitu juga, kehidupan dunia harus dipahami secara utuh, terutama berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab kemanusiaan, karena Allah menciptakan manusia tidak sia-sia. Maka, hidup di dunia ini tidak boleh disia-siakan dengan melulu mengurusi kesenangan dan kenikmatannya!

Kamis, 25 Februari 2010

Agar Pesan Sampai Ke Hati

Tazkiyatun Nufus
1/4/2007 | 14 Rabiul Awwal 1428 H | Hits: 10.567
Oleh: Asfuri Bahri, Lc
--------------------------------------------------------------------------------


Seorang pasien penderita penyakit kanker terbaring di atas tempat tidur di sebuah rumah sakit yang entah rumah sakit ke berapa yang pernah disinggahinya. Dan kali ini pun hasil yang didapat tidak jauh berbeda dengan perawatan sebelumnya. Bahkan dokter yang menanganinya sempat menghampirinya. Sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata kepada si pasien, bahwa seluruh upaya medis telah ditempuh. Karena kondisi penyakit yang sangat kritis, agaknya harapan untuk sembuh sangat tipis.

Bisa dibayangkan bagaimana reaksi pasien tersebut. Sedih, gelisah, depresi, tidak ada lagi gairah dan upaya. Berbeda halnya jika si dokter yang merawatnya itu mengatakan hal lain, kondisinya memang sangat parah, namun, menurutnya, masih ada harapan untuk sembuh. Tentu si pasien sangat bergembira mendengarnya. Kata-kata dokter itu akan mempengaruhi semangatnya untuk sembuh.

Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bahkan terkadang ia lebih ampuh daripada senjata. Dalam hal ini pepatah lama masih relevan, bahwa lidah lebih tajam daripada pedang. Betapa sering sebuah perang berkobar disebabkan oleh kata. Demikian pula sebaliknya, perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai. Seorang penulis wanita Jerman, Annemarie Schimmel, berbicara tentang kekuatan kata. “Kata yang baik laksana pohon yang baik. Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia; katalah yang mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga, jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”

Karena kata-kata seseorang bisa bergairah, bersemangat, terhibur dari duka, seorang pasien akan mempunyai harapan sembuh oleh kata-kata dokter. Yang terkadang kondisi sesungguhnya berlawanan dengan kata-kata itu, sekadar untuk menerbitkan semangat. Juga karena kata-kata, hati yang tadinya cerah berbunga-bunga menjadi redup sedih. Tadinya optimis menjadi pesimis. Bersemangat menjadi patah arang.

Kata-kata sebagai alat yang ampuh untuk berbagai kepentingan orang. Melobi, mempengaruhi, merayu, menghina, melecehkan, membalaskan sakit hati. Dan kata orang, ia adalah senjata bermata dua. Jika kata-kata itu keluar dari orang baik dan suka melakukan perbaikan, maka dampak yang ditimbulkannya akan positif. Namun jika ia diungkapkan oleh orang jahat dan mencintai tersebarnya kejahatan di muka bumi ini, dampak yang ditimbulkannya tentu kejahatan itu sendiri sebagai produk hatinya yang jahat itu.

Seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang kepada Allah dalam taat dan ibadah kepada-Nya. Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata. Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat mempengaruhi proses perubahan adalah akal pikiran. Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman dan pola pikir, maka perubahan persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.

Penyampaian kata-kata bahkan menjadi titik tekan tugas para nabi dan rasul. Seperti yang Allah tegaskan kepada Rasulullah saw. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (As-Syura: 48)

Sebagai penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan risalah kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam memasarkan risalah ini kepada manusia. Berbagai kajian dan petunjuk tentang kata-kata dan ceramah yang berkesan telah banyak ditulis para ulama. Namun muaranya tidak jauh berputar pada beberapa poin berikut ini:

1. Kuatnya Hubungan dengan Allah

Hubungan yang menguatkannya, yang menjadi rujukan, tempat menyandarkan diri, kepada-Nya ia mengadu, berdoa, dan berbagi. Seorang dai mengajak orang lain menuju Allah. Bagaimana mungkin ia dapat mengajak kepada sesuatu jika ia sendiri jauh dengannya dan lemah hubungannya dengan sesuatu itu. Syeikh Muhammad Ghazali menyebutkan sifat ini sebagai pilar utama seorang dai, yang tidak boleh diabaikan. Sebab jika setiap muslim berkewajiban membina hubungan baik dengan Allah, apatah lagi seorang dai.

Sejarah telah menjadi saksi bahwa tidak ada seorang nabi pun atau pelaku perbaikan kecuali ia mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah. Jalinan mereka dengan Allah sangat kuat, hidup, dan selalu segar. Tidak pernah putus barang sekejap pun dan tidak pernah layu. Terlihat dalam aktivitas kesehariannya, saat bersama orang lain terlebih saat sendiri. Syeikh Abdurrahman As-Sa’ati, ayah Imam Syahid Hasan Al-Banna mengisahkan kegiatan anaknya ketika berada di rumah,

“Di antara akhlaqnya adalah berpaling dari banyak orang dan hanya menyendiri bersama Rabbnya, tidak ada yang tahu selain keluarga dekatnya saja. Di rumahnya –Allah yang menjadi saksi- tidak pernah lepas dari mushaf, tidak berhenti membaca, tidak pernah lalai dari zikir, ia membaca Al-Qur’an memperdengarkan bacaannya kepada salah seorang hafizh di antara kami. Jika tidak ada seorang hafizh kecuali anak kecil, ia pun muraja’ah hafalannya dengan anak itu. Rumahnya penuh dengan bacaan Al-Qur’an, sujud, larut dalam dzikir, dan mendaki ke ketinggian langit spiritual. Ketika ia tahu cara Nabi membaca Al-Qur’an maka ia praktekkan, termasuk waqaf-waqaf di mana Rasulullah berhenti, ia pun berhenti. Terkadang badannya gemetaran, hatinya penuh ketakutan, gelisah pada ayat-ayat ancaman, terhadap ayat-ayat gembira ia berbinar-binar, jauh dari suasana di mana ia hidup, jauh terbawa makna ayat-ayat itu.”

Dan semua orang yang pernah mendengar pidatonya mengakui, betapa Imam Syahid mempunyai kata-kata yang sangat kuat. “Jika ia berpidato, kata-katanya mengalir seolah-olah turun dari langit.” Kata seseorang yang pernah menghadiri ceramahnya.

2. Selalu Memperbaiki Diri

Setiap muslim wajib memperbaiki diri dari segala kekurangan. Apalagi seorang dai. Boleh jadi ini merupakan hasil dari hubungan yang baik dengan Allah. Sebab siapa yang mengingat Allah ia akan teringat akan semua dosa dan kekurangan dirinya serta menyadari semua aib pribadinya. Berbeda halnya dengan orang yang lalai dari zikir. Ia pun akan lalai kepada Allah bahkan lalai kepada dirinya sendiri. Ia berjalan tanpa arah dan petunjuk. Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr:19)

Sangat berbahaya jika seorang dai mengajak orang melakukan sesuatu sementara dirinya sendiri jauh darinya. Atau mencegah orang dari melakukan sesuatu ia sendiri belum bisa terlepas darinya. Jika demikian, maka seruan dakwah yang dikumandangkannya tak nyaring lagi. Seseorang berkata, “Kalau saya melihat seorang dai merokok, kepercayaan saya kepadanya berkurang dua puluh lima persen.”

Bahkan, tidak hanya ajakannya yang diabaikan orang, ia bisa mendapatkan murka dari Allah.

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Shaff:3)

Tentu saja hal ini tidak dipahami secara tidak konstruktif, dengan menyibukkan diri sendiri serta tidak peduli kepada perbaikan sekitarnya. Aslih nafsaka wad’u ghairaka (perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain), begitu kata orang.

3. Kecerdasan Akal, Kebersihan Hati, dan Pemahaman yang Dalam tentang Islam

Sifat ini hendaknya menjadi watak seorang dai. Yang dengan demikian ia bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menimbang persoalan dengan timbangan yang benar dan tidak memihak. Dalam bahasa dakwah hal ini bisa disebut sebagai hikmah. Seperti yang Allah firmankan,

“Allah menganugerahkan Al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah:269)

Menurut Muhammad Al-Ghazali, kecerdasan yang dimaksud, seseorang tidak perlu menjadi jenius. Namun hanya dengan memiliki kemampuan melihat suatu permasalahan apa adanya. Tidak menambah maupun mengurangi. Dengan cara pandang seperti ini seorang dari dapat mendiagnosa sebuah persoalan dengan baik dan pada gilirannya bisa memberikan terapi yang tepat sesuai dengan permasalahan yang dihadapinya. Kata-kata yang disampaikannya menjadi tepat sasaran.

Dengan kemampuan seperti inilah Rasulullah terlihat menyampaikan nasihat yang berbeda-beda, melihat kondisi dan latar belakang psikologis seseorang yang konsultasi kepada beliau. Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Janganlah kamu marah.” Dan Jariyah bin Qudamah, orang yang bertanya itu pun puas dengan jawaban beliau. Bahkan menurut riwayat Thabrani, pahalanya surga, seperti yang beliau sabdakan, “Janganlah kamu marah, maka akan mendapat surga.” Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Katakan, aku beriman kepada Allah. Lalu istiqamahlah.”

Kebersihan hati yang dimaksud tentu bukannya kebersihan hati yang setaraf dengan para malaikat. Cukuplah bagi seorang dai memiliki hati yang penuh cinta kepada manusia, cemburu kepada mereka, lembut dan tidak kasar memperlakukan mereka. Ia senang dengan kebaikan mereka dan bukannya senang melihat kesengsaraan mereka. Di hadapannya maupun tidak sikapnya selalu sama. Senantiasa berharap atas kebaikannya. Sehingga antara hatinya dan hati mereka terhadap tali yang menghubungkan. Ketulusan cintanya melahirkan getar saat tangannya berjabat, mulutnya berucap, dan matanya menatap. Doa yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan mereka membuat nama-nama mereka selalu hadir dalam hidupnya. Sehingga ketika bertemu, pertemuan itu pun terasa hangat dirasakan oleh mereka.

Kejelasan pemahaman dimiliki karena penguasaannya terhadap konsep universalitas Islam. Hal ini membuatnya mampu mengidentifikasi setiap persoalan. Ia dapat membedakan mana yang bisa dikategorikan sebagai persoalan aqidah dan mana yang bukan. Dengan hal ini pula seorang dai dapat berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat dan dapat melihat kekurangan serta kelebihan mereka. Ia juga memiliki skala prioritas dalam dakwahnya.

Dalam menyikapi berbagai perpecahan madzhab dan aliran di Mesir, Hasan Al-Banna dengan Ikhwannya mempunyai sikap yang jelas. “Karena Ikhwan meyakini bahwa perbedaan dalam hal-hal furu’ adalah sebuah keniscayaan. Harus terjadi. Sebab prinsip-prinsip Islam yang berupa ayat-ayat, hadits, amal Nabi bisa dipahami secara berbeda. Oleh karenanya perbedaan semacam ini juga terjadi di kalangan para sahabat. Dan perbedaan itu terus terjadi sampai hari Kiamat. Alangkah bijaknya Imam Malik ra saat ia berkata kepada Abu Ja’far yang ingin memaksa orang mengikuti buku Al-Muwattha’, “Para sahabat Rasulullah berpencar di negeri-negeri. Masing-masing kaum mempunyai ilmu. Jika Anda memaksa mereka kepada satu ilmu, akan terjadi fitnah.” Tidak ada salahnya dengan perbedaan, namun yang salah adalah sikap fanatik terhadap pendapat tertentu dan menutup diri dari pendapat orang lain. Cara pandang semacam ini dapat menyatukan hati yang bersengketa ke dalam kesatuan fikrah. Cukuplah orang-orang bersatu menjadi muslim sebagaimana yang dikatakan Zaid r.a. Pandangan seperti ini sangat penting dimiliki sebuah jamaah yang ingin menyebarkan fikrah pada suatu negeri di mana yang dilanda sebuah konflik tentang masalah yang tidak semestinya diperdebatkan.”

4. Keikhlasan

Keikhlasan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi setiap muslim dalam ibadahnya kepada Allah. Sebab ia sebagai syarat diterimanya ibadah. Ibnu Atha’illah berkata, “Amal perbuatan merupkan tubuh yang tegak. Sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia di balik amal yang berupa keikhlasan.” Terlebih lagi bagi seorang dai dan aktivis. Aktivitas dakwahnya adalah sebaik-baik amal dan sarana taqarrub kepada Allah, tentu keikhlasan menjadi lebih urgen lagi. Seorang dai hendaknya menjauhkan kepentingan pribadi yang berupa sebutan, imbalan, dan pengaruh pribadi karena aktivitas dakwahnya.

Keikhlasan tentu saja ada buahnya. Aktivitas dakwah yang dilandasi dengan keikhlasan tentu berbeda hasilnya dengan yang dilakukan karena pamrih. Bersamaan dengan kata-kata yang diucapkan, interaksi yang dilakukan, dan kegiatan yang dilaksanakan seorang dai selalu menambatkan hatinya kepada Dzat yang menguasai dan membolak-balikkan hati. Kata orang Arab, “Kata-kata yang keluar dari hati akan sampai kepada hati pula.”

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima selain kebaikan.” Bagi seorang dari, kebaikan yang hendak dipersembahkan kepada Allah adalah keyakinannya terhadap keutamaan dakwahnya dan harapannya yang ditambatkan kepada ridha Allah semata.

5. Keluasan Wawasan

Dakwah di zaman modern sekarang ini harus didukung oleh keluasan wawasan. Karena seorang dai bertugas mengarahkan dan membimbing manusia dengan segala strata sosial dan intelektual mereka. Ia berbicara dengan dokter, pasien, guru, pegawai, kuli, insinyur, pedagang, orang pintar, dan orang bodoh. Mestinya ada penguasaan wawasan yang dapat memasuki pola pikir mereka semua.

Tidak harus menguasai semua disiplin ilmu secara mendalam, namun wawasan global tentang berbagai persoalan hendaknya dipahami. Kecuali wawasan keislaman yang secara asasi harus dikuasai. Pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah serta wawasan keislaman lain; budaya Islam, sejarah Islam, dan lain-lain. Oleh karena itulah Imam Syahid Hasan Al-Banna memberikan tekanan khusus kepada sisi ini dan itu sebagai salah satu karakter dakwahnya. Bahwa dakwah Ikhwan juga bercirikan Jamaah Ilmiyah Tsaqafiyah (organisasi ilmu pengetahuan dan wawasan). Dan semua sarana yang dimilikinya pada dasarnya untuk membina intelektual, hati, dan jasad para anggotanya.

Keluasan wawasan yang dimiliki seorang dai membuatnya mampu menemukan ‘pembuka hati’ bagi orang-orang yang menjadi objek dakwahnya. Ketika berkomentar tentang wawasan Abu Bakar yang paling tahu tentang nasab suku Quraisy dan paling tahu tentang apa yang baik dab buruk mereka, Munir Muhammad Al-Ghadhban berkata, “Pengetahuan tidak kalah penting daripada akhlaq. Yang dituntut dalam masalah ini bukan segala macam pengetahuan. Tetapi pengetahuan mengenai masyarakat dan kecenderungan-kecenderungannya. Pengetahuan yang menjelaskan karakteristik jiwa manusia. Pengetahuan inilah yang akan memberikan daya gerak kepada dai yang merupakan pintu masuk ka hati mad’u. Setiap hati memiliki ‘kunci’, dan tugas seorang dai adalah untuk mendapatkan kunci itu agar ia bisa memasuki hatinya lalu hati itu menyambutnya.”

6. Menguasai Metodologi Komunikasi

Sebab ada pepatah Arab mengatakan, likulli maqam maqal (bagi masing-masing momen ada ungkapannya). Dan masing-masing orang memiliki kecenderungan terhadap satu bentuk komunikasi tertentu. Ada yang suka dengan gaya bicara yang berapi-api. Ada yang tertarik dengan ceramah yang banyak ‘lawak’nya. Ada pula yang tidak suka terhadap hal-hal yang monoton dan serius dan ia lebih suka kalau ceramah banyak diselingi ilustrasi. Kemampuan memilih model komunkasi yang tepat akan menjadi daya tarik yang dapat menggait hati. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kejelasan (komunikasi) adalah sihir.”

Al-Bahi Khauli merekomendasikan kepada seorang dai agar menggunakan beberapa metodologi dalam aktivitas dakwah yang dilakukannya. Di antaranya adalah:

1. Kisah: karena dengan kisah sesuatu yang bersifat normatif bisa lebih mudah dipahami. Karena nilai-nilai itu berubah menjadi kaki yang berjalan, tangan yang bergerak, dan mulut yang berucap. Barangkali inilah di antara rahasia Al-Qur’an yang menggunakan metode kisah sebagai salah satu sarananya. Agar Islam dapat dipahami sebagai agama yang realistis dan tidak hanya bersifat kelangitan tanpa bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Terbukti para pelaku sejarah itu mampu melakukannya. Di samping ia juga menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman.
2. Perumpamaan: karena dengan perumpamaan dapat mendekatkan yang jauh dan menjelaskan yang buram, juga menentukan kadar sesuatu yang abstrak. Al-Qur’an dan hadits sendiri seringkali menggunakan perumpamaan sebagai sarana menjelaskan kepada kaum Muslimin tentang ajaran Islam. Tentang hakikat amal perbuatan orang-orang kafir Allah berfirman, ” Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (An-Nur:39)
3. Perbandingan: dan tujuannya adalah untuk menjelaskan kadar keterpautan sebuah nilai. Dalam salah satu sabdanya Rasulullah bersabda, “Shalat berjamaah lebih mulia daripada shalat sendiri dengan selisih dua puluh tujuh derajat.” Juga sabda beliau, “Perbandingan antara orang berilmu dan yang tidak berilmu seperti perbandinganku dengan sahabatku yang paling rendah (pengetahuannya.”

6. Berdoa

Setelah seluruh upaya dan sarana dikerahkan untuk menggait orang menuju Allah dalam aktivitas dakwah, seorang dai tidak boleh menyandarkan hasil kepada kemampuan dan upayanya. Upaya itu harus dikembalikan kepada Allah yang menguasai hati dan pikiran. Ini akan menjaganya dari sikap ghurur apabila dakwahnya mendapatkan kemenangan dan menjauhkannya dari berputus asa jika menemui kegagalan. Sebab ia yakin, seberapa hebat sarana yang dikuasainya, ia hanyalah senjata bisa mengenai sasaran dan bisa tidak. Doa juga dapat menutupi segala kekurangan dan kelemahannya. Sebab tidak ada orang yang memiliki semua dan menguasai segalanya secara ideal. Adakalanya seseorang memiliki kelebihan pada satu sisi, namun ia juga memiliki kekurangan pada sisi lain. Dan berdoa adalah ibadah. Adalah senjata seorang mukmin di saat senjata lain tidak mempan. Ketajaman doa dapat menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus senjata biasa.

7. Selanjutnya, Hidayah dari Allah

Karena dai hanya menyeru dan menggerakkan potensi yang diberikan Allah. Selanjutnya hasilnya dikembalikan kepada Allah. Sebuah kegagalan, selain harus disikapi secara proporsional dengan melakukan evaluasi aktivitas dakwah dan motivasi amal da’awi, tentu harus dikembalikan kepada kehendak Allah yang berhak memberi hidayah atau tidak memberi. Dan tentu saja tidak berhenti di situ. Optimisme harus selalu ditanamkan dalam diri seberat apapun medan dakwah yang dilalui. Sebab perjalanan belum berakhir. Hidup manusia tidak berhenti sampai di sini. Masih ada harapan untuk berubah dan kembali ke jalan yang benar.

Dengan pemahaman inilah kita tidak pernah menganggap Nabi Nuh gagal dalam dakwahnya. Luth gagal. Shalih gagal. Sebab semua sarana dan prasarana telah dikerahkan untuk mengetuk pintu hati mereka. Rasulullah juga tidak pernah gagal ketika berambisi agar paman tercinta Abu Thalib mendapatkan hidayah. Karena “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash:56)

Kegagalan adalah jika si dai itu sendiri terhapus pahala aktivitas dakwahnya karena dosanya atau is sendiri terpental dari aktivitas dakwah, melempar handuk untuk meninggalkan kancah pertarungan. Lalu ia hanya duduk-duduk bersama ‘qa’idin’. Semoga Allah mengokohkan kaki kita dengan kata-kata-Nya yang tetap. Wallahu A’lam. []

Meraih Kekuasaan Atas Nama Dakwah

Fiqih Dakwah, Tarikh Islam
16/7/2007 | 02 Rajab 1428 H | Hits: 6.472
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
--------------------------------------------------------------------------------


“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya (Dzul Qarnain) di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu”. (Al-Kahfi : 84).

Ayat di atas dan ayat anugerah kekuasaan kepada para Nabi pilihan Allah swt lainnya cukup menjadi bukti dan argumentasi yang kuat untuk menjawab mispersepsi atau miskonsepsi yang masih hadir di tengah-tengah umat bahwa kekuasaan sangat bertentangan dengan dakwah. Kekuasaan adalah simbol kediktatoran dan cermin kezaliman, sedangkan dakwah adalah cermin keteladanan dan simbol kasih sayang.

Persepsi negatif ini wajar muncul karena beberapa orang –bisa jadi mayoritas orang- yang diberi kesempatan untuk berkuasa ternyata tidak mampu memanfaatkan kekuasaan itu untuk kemaslahatan dan kesejahteraan bangsa. Malah sebaliknya, kekuasan itu dimanfaatkan untuk mempekaya diri dan justifikasi tindakan kesewenangannya.

Di sisi lain, ada sekelompok orang yang memiliki cita-cita luhur menyebarkan kemasalahatan dan kesejahteraan kepada semua pihak, namun tidak dapat merealisasikannya karena tidak memiliki alat kekuasaan (power).

Dua realitas yang menggejala di tengah umat ini tentunya tidak bisa dijadikan alasan menyalahkan kekuasaan atau memaksakan kekuasaan. Kehadiran kekuasaan dalam konteks dakwah, merupakan sunnatullah yang pernah berlaku kepada umat terdahulu, bahkan melalui manusia unggulan pilihan Allah swt, yaitu para Nabi dan hamba-hamba-Nya yang shalih.

Tentu, anugerah kekuasaan yang Allah swt berikan kepada salah seorang dari hamba-Nya yang sholeh tidak bisa dilepaskan dari misi dakwah menyebarkan ajaran Islam dan menegakkannya di tengah-tengah umat manusia.

Dzul Qarnain yang diabadikan namanya pada ayat di atas merupakan figur penguasa yang sekaligus aktifis dakwah. Ia mampu merealisasikan dakwah dan kekuasaan secara bersamaan. Bahkan dengan kekuasaan yang dimilikinya, ia mampu menghadirkan kemajuan dan kemaslahatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Al-Qur’an menyuguhkan kisah prestasi positif Dzul Qarnain dalam bidang dakwah dengan kekuasaan yang diraihnya dalam surah Al-Kahfi : 83-98.

Pengabadian kisah dakwah dan kekuasaan Dzul Qarnain oleh Al-Qur’an jelas merupakan petunjuk sekaligus jawaban bahwa sebuah dakwah akan lebih memberikan hasil yang maksimal manakala didukung oleh sarana kekuasaan. Simaklah ketegasan Dzul Qarnain dalam ayat berikut ini,

“Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” (Al-Kahfi: 87-88).

Pernyataan yang demikian tegas ini tentunya tidak akan terlontar kecuali dari seorang penguasa. Dalam hadits Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, Rasulullah saw malah mengawali perubahan kemunkaran itu dengan “biyadihi” yaitu kekuasaan dan kekuatan, barulah langkah di bawah berikutnya dengan lisan dan dengan doa, meskipun termasuk tanda iman yang lemah.

Pada realitasnya, dengan kekuatan dan kekuasaan yang Allah swt anugerahkan, justru memudahkan Dzul Qarnain untuk melakukan ekspansi dakwah ke seluruh penjuru bumi dari belahan timur hingga ke belahan barat, sekaligus mendapatkan ketaatan umat manusia, yang selanjutkan ia manfaatkan untuk melancarkan program pemberdayaan, pembangunan dan penyejahteraan. Bahkan dengan kekuasaannya yang besar, memudahkannya untuk merealisasikan apapun nantinya yang dapat memajukan dan mensejahterakan kehidupan bersama.

Bukti lain dari Dzul Qarnain yang disebutkan kisahnya dalam surah Al-Kahfi, bahwa ia bukan sekedar penguasa biasa. Ia sekaligus seorang hamba Allah yang sholeh yang tak kenal lelah melakukan safari dakwah untuk mensosialisasikan ajaran Allah.

Allah swt menggambarkan jaulah dakwahnya yang cukup padat ke berbagai penjuru dunia yang tidak bisa dicapai oleh orang lain, “Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. (Al-Kahfi: 89-91).

Dalam konteks kekuasaan sebagai bagian dari sarana dakwah Islam, nabi Yusuf as sangat layak untuk dijadikan contoh nyata bahwa kekuasaan yang dimiliki seorang da’i akan memuluskan kerja dan tujuan dakwah. Al-Qur’an menyebutkan permintaan Nabi Yusuf as kepada raja Mesir, “Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf : 55).

Permintaan ini disampaikan manakala raja menawarkan jabatan kepadanya, “Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (Yusuf : 54).

Peluang dan kesempatan yang terbuka di depannya tidak disia-siakan lagi oleh Nabi Yusuf as demi kepentingan dakwah.

Ayat meminta jabatan oleh nabi Yusuf as di sini harus difahami dari sudut pandang yang positif bahwa sesungguhnya Nabi Yusuf as tidak meminta jabatan melainkan yang diyakininya dapat mengatasi krisis di masa depan. Jabatan yang diyakini akan mampu melindungi rakyatnya dari kelaparan dan kematian serta melindungi Negara dari kehancuran. Jabatan yang akan diembannya justru memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang berat di masa paling sulit ketika krisis terjadi. Nabi Yusuf as harus bertanggung jawab atas kecukupun stok makanan bagi seluruh bangsa Mesir dan bangsa-bangsa sekitarnya selama tujuh tahun ke depan, dimana selama itu tidak ada kegiatan pertanian dan peternakan.

Memang suatu jabatan yang tidak menguntungkan bagi Yusuf as. namun justru dengan kekuasaan tersebut, nabi Yusuf as dapat lebih leluasa bergerak dan berdakwah merealisasikan tujuan dan misi Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin,

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (Yusuf : 56).

Sayid Qutb mengomentari kekuasaan yang telah diraih oleh nabi Yusuf di Mesir dalam kaca mata dakwah bahwa sesungguhnya penghalang terbesar bagi peralihan sebuah masyarakat dari jahiliyah menuju Islam adalah keberadaan para thagut (penguasa) yang enggan berhukum kepada undang-undang Allah swt. Ditambah dengan keberadaan bangsa yang masih taat dan tunduk kepada thagut. Di sini, nabi Yusuf as melihat kondisi yang memungkinkannya untuk menjadi seorang pemimpin yang ditaati dan bukan tunduk kepada norma jahiliyah. Sehingga dengan kekuasaanya itulah, ia bebas berdakwah dan menyerbarkannya di tengah masyarakat Mesir pada masa pemerintahannya.

Demikianlah tabiat dakwah Islam. Berawal dari individu, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Lantas kempulan ini begerak melawan jahiliyah dengan segala resiko sehingga Allah swt memutuskan dengan hukum-Nya antara orang-orang yang tunduk kepada-Nya dengan mereka yang ingkar dan durhaka. Lalu Allah swt menganugerahkan kepada mereka kekuatan dan kekuasaan di muka bumi, sehingga orang-orang berbondong-bondong memeluk agama Allah swt.

Nabi lain yang dianugerahkan oleh Allah swt kekuasaan adalah nabi Sulaiman as. Bahkan kekuasaan beliau adalah kekuasaan yang luar biasa tidak

terbatas dan tidak akan berulang untuk kedua kalinya. Kekuasaan yang diterima Sulaiman as adalah berawal dari permintaannya kepada Allah swt,

”Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Shaad : 35).

Pemahaman yang paling dekat dengan ayat ini adalah bahwa Nabi Sulaiman as memohon kepada Allah kekuasaan yang istimewa yang tidak akan ada lagi setelahnya. Karena hanya dengan kekuasaan seperti itulah, kerajaan-kerajaan di sekitarnya akan tunduk dan menerima seruan dan dakwah nabi Sulaiman as.

Dengan kekuasaan yang meliputi seluruh makhluk Allah swt ayang tidak terbatas itulah, nabi Sulaiman melakukan dakwahnya, sampai akhirnya bergetarlah salah seorang penguasa yang menyembah matahari melihat kekuasaan Sulaiman as yang tidak terhingga. Lantas ia dan seluruh rakyatnya menyatakan keIslamannya.

“Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (An-Naml : 44).

Jika seorang Nabi yang dijadikan teladan oleh Allah swt dibenarkan untuk berdoa memohon agar diberi kekuasaan dan kekuatan, maka tentunya permohonan itu adalah permohonan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam yang konprehensif. Karena Allah swt tidak mengajarkan sesuatu melainkan untuk kebaikan hamba-hamba-Nya.

Kekuasaan yang telah memberikan kontribusi yang besar kepada dakwah pernah dibangun juga oleh sahabat Umar bin Khattab dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Kesejahteraan dan ketenangan bukan hanya dirasakan oleh umat Islam, tetapi oleh seluruh umat manusia, bahkan hewan pun mendapatkan berkah dari kekuasaan keduanya.

Begitulah, ketika kekuasaan ditangan orang-orang yang sholeh, maka tujuan dakwah dapat direalisasikan dengan sempurna. Dan manakala tujuan dakwah terealisir, maka pada masa yang sama sesungguhnya kemaslahatan dan kepentingan manusia juga terjamin, karena dakwah Islam diarahkan untuk membangun kebaikan kepada sesama. Maha benar Allah dengan firmanNya,

”Sesungguhnya bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang sholeh”. (Al Anbiya’: 105).

Disinilah urgensi kekuasaan dalam dakwah Islam. Dengan kekuasaan, pintu dan peluang dakwah dan amal sholeh akan lebih terbuka luas. Efektifitas kekuasaan dalam menegakkan dakwah telah terbukti dalam sejarah dakwah para manusia pilihan Allah; Nabi Sulaiman, nabi Yusuf, Dzul Qarnain, bahkan Rasulullah saw sendiri ketika berhasil menguasai dan menaklukkan Mekah, sehingga berbondong-bondong penduduk Mekah memeluk Islam.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”. (An-Nashr: 1-3).

Saatnya kita menjadikan dan memanfaatkan kekuasaan dalam bentuk dan skala apapun sebagai sarana untuk menyempurnakan dakwah Islam sehingga integralitas Islam mampu kita jabarkan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya Islam adalah Din sekaligus Negara (Din Wa Daulah), bukan dipersempit dengan batasan ruang rutinitas ibadah mahdloh –ritual- sehari-hari semata. Allahu A’lam.

Jujur Dengan Dakwah

Tazkiyatun Nufus
1/1/2007 | 11 Zulhijjah 1427 H | Hits: 6.025
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
--------------------------------------------------------------------------------


Ash-shidq (kejujuran) merupakan “Faridhah Diniyyah” satu kewajiban agama yang berlaku dalam semua bidang kehidupan dan dalam semua keadaan. Baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun kehidupan berjamaah. Karena kejujuran menunjukkan keikhlasan seseorang yang tertinggi dalam beramal. Bahkan kekuatan suatu ucapan atau tindakan justru ditentukan oleh kejujurannya. Ketika orang-orang munafik mengatakan tentang Rasulullah dan secara lahir ucapan itu benar “Kami bersaksi bahwa engkau (Muhammad) adalah utusan Allah”, namun Allah tetap membantah dan mencap mereka sebagai para pendusta karena kebenaran ucapan mereka hanya sebatas di lisan, tidak disertai dengan kebenaran hati. “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta”. (Al-Munafiqun: 1)

Demi keagungan sifat shidiq, Allah menyifati diri-Nya dengan sifat ini di dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Seperti dalam surah Ali Imran: 95, “Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.” Juga dalam surah An-Nisa: 122 “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?” (An-Nisa’: 87) dan surah Al-Ahzab: 22, “Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan”.

Beberapa Rasul-Nya juga dimuliakan dan dihiasi dengan sifat ini dalam dakwah mereka, seperti dalam surah Yasin: 53 Allah menjamin kebenaran dan kejujuran para Rasul dalam menyampaikan risalah-Nya, “Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(-Nya)”. dan Maryam: 54. “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” Bahkan sifat ini merupakan sifat dasar para pengemban dakwah. Terutama Rasulullah saw selaku uswah dalam semua sifat-sifat yang baik. Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau sudah dikenal di tengah-tengah masyarakatnya dengan gelar “Ash-shadiqul Amin”. Sangat jelas kepemimpinan dalam dakwah sangat menuntut keteladanan dalam kejujuran dan kebenaran dalam aktivitas dakwahnya.

Begitu besar nilai shidiq dalam kehidupan seseorang. Tentunya bagi seorang dai. Bahkan jika seseorang mampu komitmen dengan sifat ini dalam apa jua keadaan dan tidak pernah meninggalkannya, maka ia akan meraih gelar shiddiq. Dan kedudukan orang-orang shiddiqin adalah di bawah kedudukan para nabi. “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (An-Nisa’: 69)

Diriwayatkan bahwa ketika orang-orang musyrik sepakat untuk melontarkan tuduhan keji kepada Rasulullah, tiba-tiba salah seorang yang dikenal sangat memusuhi Rasulullah yaitu An-Nadhr bin Al-Harits malah berbicara dengan lantang di hadapan mereka karena kebenaran dan kejujuran Rasulullah yang tidak bisa disangsikan lagi dan sudah menjadi buah bibir orang banyak. “Muhammad adalah seorang yang masih beliau percaya di antara kalian. Ia seorang yang paling benar ucapannya, paling besar sifat amanahnya. Jika ia dikenal demikian, apakah kalian tetap akan menuduhnya sebagai tukang sihir? Tidak, sungguh ia bukan tukang sihir”. Ternyata kejujuran justru bisa menjadi pelindung dari rekayasa dan upaya musuh menghasut kita, secara internal maupun eksternal. Sebaliknya, jika kejujuran atas komitmen dengan dakwah ini berkurang, maka akan mempermudah masuknya rekayasa eksternal atau timbulnya ekses internal yang berdampak kepada menghambat perkembangan dakwah, karena beberapa energi akan dialokasikan untuk membenahi kejujuran secara internal.

Selanjutnya Al-Qur’an menetapkan bahwa sifat shidiq adalah cermin dan sifat dasar orang-orang pilihan dari hamba-hamba-Nya yang shaleh, taat dan lurus, padahal keshalehan, ketaatan dan kelurusan merupakan bagian yang dituntut dalam menegakkan dakwah. Allah menggambarkan sifat orang-orang pilihan-Nya dalam surah Az-Zumar: 33 “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. Juga dalam surah Al-Hasyr ayat 8 yang menggambarkan kemuliaan orang-orang Muhajirin, “dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Allah sendiri memerintahkan orang-orang yang beriman agar senantiasa bersikap shidiq setelah perintah-Nya agar mereka bertaqwa. Sehingga kesempurnaan ketakwaan seseorang harus senantiasa diiringi dengan kejujuran dan kebenaran. “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119). Sesungguhnya dalam ayat ini terdapat dua perintah sekaligus, yaitu agar orang-orang beriman senantiasa bersifat shidiq, juga senantiasa berada dalam barisan bersama orang-orang yang shadiq.

Bahkan dalam rangka melakukan konsolidasi dan penguatan barisan aktivis dakwah, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar senantiasa mencari dan mengawasi para pengikutnya, sampai benar-benar ia mengetahui orang-orang yang shadiq di antara mereka demi memelihara kemuliaan mereka dan mengetahui orang-orang yang dusta untuk mewaspadai gerak-gerik mereka. Allah menegaskan dalam firman-Nya, “Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?” (At-Taubah: 43)

Terkait dengan ayat ini, Ibnul Qayyim menjelaskan dengan rinci keutamaan sifat shidiq di dalam kitabnya Madarijus Salikin, bahwa dengan sifat ini akan dapat dibedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang yang benar beriman. Sifat inilah yang menjadi ruh amal perbuatan. Oleh karena itu kedudukannya di bawah kedudukan kenabian yang merupakan kedudukan manusia tertinggi di atas muka bumi ini”.

Selanjutnya Ibnul Qayyim menjelaskan dengan lebih rinci bahwa sifat ini sebagaimana dianjurkan dalam perkataan, juga dalam perbuatan dan keadaan. Shidiq dalam perkataan artinya lurusnya lisan dengan ucapan seperti lurusnya ranting di atas dahan. Shidiq dalam perbuatan adalah tegaknya perbuatan sesuai dengan tuntunan perintah seperti tegaknya kepala di atas tubuh seseorang. Dan shidiq dalam keadaan adalah tegaknya amalan-amalan hati dan anggota badan atas dasar ikhlas, kesungguhan dan pengerahan kemampuan yang maksimal.

Demikianlah beragam bentuk kejujuran yang harus dimiliki oleh setiap aktivis dakwah. Dan kejujuran yang paling tinggi adalah kejujuran di dalam memegang sumpah setia dan menunaikan janji dengan dakwah hingga titik darah penghabisan. Seperti yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya yang menunjukkan hanya sebagian aktivis dakwah yang mampu berbuat demikian. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”. (Al-Ahzab: 23)

Contoh dari kejujuran dalam Al-Wafa’ bil Ahdi bisa ditemukan pada pribadi Anas bin An-Nadhr. Ia telah merealisasikan kejujurannya dalam berjanji dengan Allah untuk tetap teguh dalam dakwah hingga meraih syahadah. Ternyata ia ditemukan syahid dengan kondisi tubuh yang penuh dengan luka. Demikian juga kejujuran yang ditunjukkan oleh Mush’ab bin Umair yang jujur dengan komitmen dakwahnya hingga ia syahid dalam dakwah.

Dalam konteks ini, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar bin Al-Khathab bahwa Rasulullah saw bersabda, “Para syuhada itu terbagi empat golongan. Pertama di tingkat yang paling tinggi adalah seorang mukmin yang baik imannya. Ia bertemu musuh lantas ia menunjukkan kebenaran dengan janjinya hingga terbunuh. Kedua seseorang yang baik imannya namun begitu takut bertemu musuh, namun kemudian ia terkena anak panah yang nyasar dan meninggal. Ketiga seorang mukmin yang bercampur amal baiknya dengan amal buruk, namun kemudian ia bertemu musuh dan membenarkan janjinya hingga meninggal. Keempat seorang mukmin yang banyak melakukan maksiat, namun kemudian ia bertemu musuh dan terbunuh”.

Dakwah ini akan bisa memberikan kebaikan dan keberkahan manakala dikemudikan dan
disertai oleh mereka yang berpegang teguh dengan sifat ini. Betapa dalam urusan jual beli, Rasulullah menyatakan bahwa keberkahan hanya akan diraih jika kedua belah pihak mengedepankan sifat ini. Namun keberkahan itu akan dicabut manakala keduanya atau salah seorang dari mereka tidak peduli lagi dengan kejujuran. “Kedua pihak (penjual dan pembeli) berhak untuk menentukan pilihan selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan apa adanya maka jual beli mereka akan mendapatkan keberkahan. Namun manakala keduanya berbohong dan menyembunyikan kebenaran, maka keberkahan itu akan dicabut kembali”. (Al-Hadits)

Memang bukan hal yang mudah untuk bisa jujur dalam segala urusan dan dalam semua keadaan. Untuk itu, Nabi Ibrahim, seorang nabi yang shaleh masih tetap dengan penuh tawadhu’ memohon kepada Allah agar senantiasa tutur katanya dijaga oleh Allah sehingga menjadi contoh yang baik bagi generasi kemudian. Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian”. (Asy-Syu’ara’: 83-84)

Agar bisa dan terbiasa jujur dengan orang lain, perlu diawali dengan jujur terhadap diri sendiri. Terutama jujur dengan kewajiban-kewajiban terhadap Allah swt. Tentu bisa komitmen dengan sifat ini dalam dakwah membutuhkan motivasi yang tinggi, tekad yang bulat serta keyakinan yang teguh. Diibaratkan oleh Ibnul Qayyim bahwa membawa sifat ini dalam kehidupan seperti mengangkat gunung yang tinggi. Tidak akan ada yang mampu mengangkatnya melainkan orang-orang yang kuat kemauan dan niatnya. Karena kejujuran yang sesungguhnya adalah kejujuran yang ditampilkan saat tidak ada yang bisa menyelamatkan nyawa kita kecuali dengan berbohong.

Sebagai motivasi, perlu untuk senantiasa diingat balasan yang tinggi bagi orang-orang yang bisa jujur, “Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya[457]. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Al-Ma’idah: 119). Dan sebaliknya akibat dan hukuman yang akan dikenakan terhadap orang-orang yang dusta dalam hidupnya. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (Az-Zumar: 60) betapa kita mendambakan tampilkan aktivis dakwah yang bias berpegang komit dengan kejujuran dan kebenaran dalam segala situasi dan kondisi apapun, sehingga dakwah ini akan lebih memberikan kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam. Sudah saatnya memang kita merefleksi sejauhmana tingkat kejujuran kita dengan dakwah ini. Wallahu A’lam.

Menjadi Pelopor Kebajikan

Fiqih Dakwah
29/3/2007 | 12 Rabiul Awwal 1428 H | Hits: 3.960
Oleh: Tim dakwatuna.com
--------------------------------------------------------------------------------


Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menunjukkan jalan kebajikan maka ia memperoleh pahala (seperti pahala) orang yang melaksanakannya.” (Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban)

Menunjukkan jalan kebajikan adalah salah satu tugas dakwah. Tentu saja tujuannya untuk mengajak orang-orang melakoni kebajikan itu. Tetapi ingat, mengajak tidak cukup dengan bunga-bunga kata. Seseorang yang mengkampanyekan kebajikan haruslah menjadi pelopor kebajikan itu sendiri. Karena, tidak semua objek dakwah berprinsip “dengar perkataannya, bukan lihat siapa yang mengatakan”. Masih banyak yang menilai sesuatu itu benar atau salah, menerima atau menolak dakwah dengan merujuk pada apa yang ia lihat pada si juru dakwah. Jika rasa simpati dan cinta manusia terhadap diri dai merupakan salah satu kunci keberhasilan dakwah, maka mewujudkannya dalam diri dai adalah bagian dari dakwah itu sendiri.

Rasulullah saw. sosok yang simpatik dan mempesona. Karena itu, orang-orang yang didakwahinya tidak punya alasan untuk mencela. Mereka yang menolak dakwah sekalipun mengakui bahwa Rasulullah saw. orang yang layak dicintai karena amanah, kejujuran, dan pekertinya yang baik. Paling-paling dalih mereka untuk menolak beliau –karena mereka tidak punya alasan lain– adalah dengan menuduh apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah sihir. Suatu tuduhan yang tidak dapat dibuktikan.

Yang Utama: Cinta Allah.

Hal utama yang harus dikejar adalah kecintaan Allah. Mengapa? Pertama, dakwah adalah tugas suci dari Allah. Restu Allah sangat menentukan berhasil dan gagalnya proyek itu. Mengejar cinta manusia dengan membuat murka Allah, pasti akan menggagalkan dan menghancurkan dakwah itu sendiri.

Kedua, bila Allah telah mencintai seseorang, maka orang tersebut akan mendapatkan tempat dan memperoleh penerimaan yang luas di kalangan manusia. Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya mengatakan, ‘Sesungguhnya Aku mencintai si fulan maka cintailah dia.’ Maka Jibril mencintainya. Kemudian ia (Jibril) menyerukan di langit dengan mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia oleh kalian.’ Maka penduduk langit mencintainya. Kemudian jadilah orang itu mendapatkan penerimaan di bumi. ” (Shahih Al-Bukhari dan Muslim)

Tidak ada cara lain untuk meraih cinta Allah selain dengan cara taat kepada-Nya dalam keadaan apa pun. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31). Selebihnya, juru kampanye kebenaran, keadilan, dan kebajikan wajib melakukan kiat-kiat islami untuk menumbuhkan keberpihakan masyarakat kepada kebenaran. Beberapa di antaranya adalah:

a. Berlapang Dada.

Berlapang dada dalam merespon kesalahan-kesalahan terutama yang “merugikan” diri penyeru merupakan pintu gerbang penting bagi hadirnya kecintaan. Allah swt. berfirman: “Mereka harus memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22)

Sikap memaafkan ini tentu saja akan membuat hati menjadi lembut. “Islam menjadikan sikap pemaaf dan berlapang dada sebagai salah satu jalan tarbiyah. Sikap itu dapat membersihkan hati dari dengki dan kecenderungan-kecenderungan buruk lainnya. Dengan demikian meningkatlah keyakinan seorang muslim dan semakin sempurnalah keimanannya,” kata Musthafa Abdul-Wahid dalam Syakhshiyyatul Muslim Kama Yushawwiruhal Quran.

b. Mencintai karena Allah.

Untuk meraih cinta yang tulus adalah dengan mewujudkan cinta yang tulus. Cinta palsu hanya akan melahirkan cinta gombal. Oleh karena itu, landasan interaksi seorang dai dengan mad’unya hanyalah landasan cinta karena Allah swt. Anas bin Malik mengatakan, “Aku sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah saw. tiba-tiba seorang laki-laki lewat. Seseorang dari yang sedang duduk bersama Rasulullah saw. mengatakan, ‘Ya Rasulullah saw. aku mencintai orang itu.’ Rasulullah saw. mengatakan, ‘Sudahkah kamu menyatakannya kepadanya?’ Orang itu menjawab, ‘Belum.’ Kata Rasulullah saw., ‘Bangunlah dan nyatakanlah kepadanya.” Maka orang itu bangkit menuju ke arahnya seraya mengatakan, ‘Uhibbuka fillah (aku mencitaimu karena Allah).’ Orang itu menjawab, ‘Ahabbakal-ladzi ahbatani lahu (semoga mencintaimu pula (Allah) Yang karena-Nya kamu mencitaiku’.” (Hadits riwayat Ahmad)

c. Silaturahim

Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang menyambungkan apa-apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, merasa takut kepada Rabb mereka dan merasa takut akan buruknya penghitungan.” (Ar-Ra’d: 21)

Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk menjalin hubungan dengan orang yang memutuskannya dengan kita. Rasulullah saw. juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan, yakni memutuskan hubungan rahim (kekeluargaan).” (Muttafaq ‘alaih)

Selain besar pahalanya, silaturahim juga mendatangkan banyak manfaat bagi seorang dai. Misalnya, memahami kondisi mad’u. Dengan demikian, bisa mengenali problem yang dihadapinya. Paling tidak dai dapat memberikan empati kepadanya dan hal itu akan meringankan beban penderitaannya. Akan lebih baik lagi bila ia bisa melakukan sesuatu yang konkret yang dapat dirasakan oleh si mad’u.

d. Menebar Senyum

Menampilkan wajah cerai dan senyum adalah amal shalih yang ringan untuk dilaksanakan, tapi punya nilai mulia di sisi Allah dan pengaruh besar pada manusia. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya bisa menemui saudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim). Sebab, “Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah shadaqah.” (Ibnu Hibban)

e. Jauhi kesombongan

Seorang yang sedang mengkampanyekan kebajikan boleh saja menampilkan hal-hal baik yang pernah dilakukannya, sebagai upaya tahadduts binni’mah (menceritakan kenikmatan). Akan tetapi, ia harus berupaya untuk menjauhi riya dan kesombongan.

Qatadah mengatakan, “Siapa yang diberi harta, atau ketampanan (kecantikan), atau pakaian, atau ilmu kemudian tidak bersikap tawadhu’ maka semua itu akan menjadi kebinasaan bagi dirinya pada hari kiamat.”

f. Hati-hati dalam berjanji.

Membuat janji secara akurat dan tidak mengobralnya. Melanggar janji akan membuat Allah marah dan menyebabkan manusia kecewa serta kehilangan kepercayaan. Oleh karena itu agar kita termasuk orang yang melanggar janji, membuat janji secara cermat dan akurat adalah pilihan yang tepat. Daripada mengumbar janji, lebih produktif menampilkan bukti-bukti. Jangan sampai kita terjebak untuk menyaingi atau mengimbangi janji-janji para penyeru kebusukan dengan janji busuk serupa.

Keseriusan dalam memperbaiki keadaan umat dapat dilihat dari sejauh mana para dai dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan di dalam kehidupannya. Memang untuk konsisten dalam kebenaran memerlukan stamina ekstra. Karena, penegak nilai-nilai kebenaran dan keadilan akan selalu berhadapan dengan pemelihara kezhaliman. Orang yang berusaha hidup bersih dari korupsi akan berhadapan langsung dengan orang yang membangun kejayaan dengan korupsi. Allahu a’lam.

Dakwah Tidak Dapat Dipikul Orang Manja

Fiqih Dakwah, Tazkiyatun Nufus
6/4/2007 | 19 Rabiul Awwal 1428 H | Hits: 9.636
Oleh: Drs. DH Al Yusni
--------------------------------------------------------------------------------


Wahai Saudaraku yang dikasihi Allah.

Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.

Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.

Cobalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercopot. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya.

Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.

Duhai saudaraku yang dirahmati Allah swt.

Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Saudaraku seperjuangan yang dikasihi Allah swt.

Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.

Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)

Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan indikasi kuat daya tahannya yang tangguh dalam dakwah ini. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.

Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.

Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan mobil-mobil mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”

Duhai saudaraku yang dimuliakan Allah swt.

Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dipungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)

Wahai ikhwah kekasih Allah swt.

Pernah seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.

Wahai saudaraku seiman dan seperjuangan

Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.

Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146)

Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.

Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan. Wallahu’alam.

Sabtu, 15 Agustus 2009

Berdakwahlah agar selamat dunia akhirat

Berdakwahlah Agar Selamat Dunia-Akhirat
Fiqih Dakwah
18/6/2008 | 13 Jumadil Akhir 1429 H | Hits: 3,216
Oleh: Tim dakwatuna.com
________________________________________

dakwatuna.com - Seorang dai pasti tahu bahwa Allah swt. telah menciptakan manusia untuk tunduk hanya kepada-Nya. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Al-Dzariyat: 56 ).
Ibadah hanya benar dilakukan bila didasari pengetahuan yang jelas. Pengetahuan yang jelas tidak akan terwujud kecuali mengacu kepad manhaj (pedoman) yang telah digariskan oleh Allah swt. yang telah mengutus para rasul dan nabi-Nya. Mereka, para rasul dan nabi adalah penyeru (du’at) yang menunjukan kepada kebenaran. Demikianlah kesibukan mereka dalam rangka merealisasikan kehendak Allah yang telah manjadikan Adam a.s. sebagai khalifah di muka bumi, memutuskan perkara dengan ketetapan Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-Baqarah: 30). Maka dari itu, tujuan Allah menciptakan manusia agar dirinya sibuk dengan perintah-Nya.
Imam Ar-Razy berkata, “Ibadah yang bagaimanakah yang menjadi sebab diciptakannya jin dan manusia?” Kami tegaskan, “Ibadah yang dimaksud adalah mengagungkan perintah Allah dan menyayangi ciptaannya.” (Tafsir Ar-Razy, 28/453). Kemudian Ar-Razy berkata, “Mengagungkan Allah menuntut konsekuensi keharusan mengikuti syariat-Nya dan mentaati sabda rasul-Nya, Allah telah memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya dengan mengutus para rasul dan menjelaskan berbagai jalan dalam merealisasikan kedua bentuk ibadah tersebut di atas. Pembagian ini terkait dengan tugas ibadah adalah pembagian yang mutlak dan menyeluruh.
Dakwah kepada Allah swt. adalah fenomena keagungan Allah swt. yang paling tinggi. Dan seorang dai yang menyerukan kepada fikrah atau sasaran tertentu dengan mengarahkan segala kesungguhan di jalannya, sesungguhnya hal itu dilakukan agar ia dapat memenuhi pencapaian sasaran dan fikrahnya. Barangsiapa yang menyerukan kepada fikrah, maka ia akan dievaluasi atas fikrahnya, sebagaimana fikrahnya juga akan dievaluasi berkenaan dengan dirinya.
Dalam berdakwah kepada Allah terdapat bukti kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya, karena seorang dai ingin mengeluarkan manusia dari jurang kehancuran dan perpecahan di bawah kungkungan penguasa lokal menuju keluasan Islam dan cakrawalanya yang menyejukan, serta aturannya yang mengarahkan kepada kebahagiaan manusia. Juga mengeluarkan mereka dari lobang api neraka menuju taman surga.
Itulah dua sasaran ibadah, juga sekaligus menjadi sasaran dakwah, keselamatan ada pada capaian kedua sasaran tersebut. Para nabi Allah dan rasul-Nya telah berkomitmen dengan perintah Allah dalam berdakwah kepada-Nya dan memelihara tujuan penciptaan-Nya. Setiap rasul yang mulia selalu berobsesi dalam menyerukan manusia kepada keselamatan. Al-Qur’an telah menceritakan tentang pertarungan para nabi dengan kaumnya, selalu dipastikan bahwa pertarungan itu berakhir dengan kemenangan para du’at dan binasanya kaum penzalim penentang dakwah.
Pada kisah Nabi Nuh a.s. bersama kaumnya berakhir dengan:
فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ
“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Yunus: 73)
Dalam kisah Hud a.s. bersama kaumnya juga berakhir dengan:
وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَنَجَّيْنَاهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ(58)
“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat.” (Hud: 58)
Sedangkan dalam kisah Nabi Saleh a.s. bersama kaumnya, hasilnya adalah:
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Hud: 66)
Dalam kisah Nabi Luth a.s. dakwahnya berhasil dengan:
قَالُوا يَالُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ(81)فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ(82)
Para utusan (malaikat) berkata, “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antaramu yang tertinggal, kecuali isterimu.” Sesungguhnya mereka akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh itu sudah dekat? Maka tatkala telah datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (Hud: 81-82).
Kisah dakwah Nabi Syuaib berakhir dengan:
وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ
“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh suatu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (Hud: 94)
Dalam kisah Nabi Musa a.s. dan Fir’aun, berakhir dengan hasil sebagai beikut:
فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ(136)وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ(137)
“Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir`aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (Al-A’raf: 136-137)
Demikian pula halnya dengan sebuah Desa Tepi Pantai:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ(165)
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Al-A’raf: 165).
Ayat-ayat tersebut di atas menguatkan bahwa keselamatan bagi dakwah kepada Allah, dan inilah janji Allah kepada orang-orang beriman:
ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا كَذَلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِينَ(103)
“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (Yunus: 103)
Kemenangan orang-orang mukmin adalah kemenangan para dai, terbukti karena janji dan keputusan (Allah). Inilah garis yang telah ditetapkan Allah (sunnatullah) di muka bumi. Inilah janji untuk para penolong-Nya. Apabila terkadang perjalanan terasa panjang bagi bagi para dai, maka harus dipahami seperti inilah jalannya. Hendaknya para dai tetap yakin kemenangan dan pergantian kekuasaan akan menjadi milik orang-orang beriman. Juga hendaknya para dai jangan tergesa-gesa terhadap janji Allah, hal itu pasti akan terjadi di tengah perjalanan. Allah tidak akan menipu para penolong-Nya, tidak akan lemah untuk menolong mereka dengan kekuatan-Nya, dan tidak akan menyerahkan mereka kepada musuh-musuh-Nya. Bahkan, Allah akan selalu mengajarkan mereka, menambah pengetahuan mereka, dan membekali mereka -dalam cobaan dan penderitaan- dengan bekalan perjalanan.
Tidak Ada Ruginya Berdakwah لا خسارة في الدعوة
Kegiatan dakwah tidak seperti yang dianggap oleh kebanyakan orang, penuh dengan rasa letih, penderitaan, kepenatan dan kesengsaraan. Sesungguhnya kegiatan dakwah –meskipun tidak terlepas dari kelelahan dan kepenatan– seperti makanan lezat dan memuliakan hati. Oleh karena itu para aktivis dakwah selalu tetap berada di jalannya dengan nilai-nilai yang tinggi dan berharga, melipur lara dan mendapatkan kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya demi kepentingan dakwah. Mereka adalah orang yang paling bahagia bila dibanding dengan yang lainnya (yang tidak berdakwah). Adapun akhir dari perjuangan dakwah adalah kemenangan dan kekekalan; selain dari itu adalah kehancuran dan kebinasaan.
Dakwah Nabi Muhammad adalah Memberi Perlindungan Bagi Kemanusiaan
Bila diamati beberapa ayat yang menjelaskan tentang pertarungan para nabi dengan kaumnya, maka dapat disimpulkan bahwa orang-orang zalim seluruhnya dimusnahkan oleh azab Allah swt. sehingga tidak ada lagi tersisa dan tidak luput seorang pun dari mereka. Dengan datangnya Nabi Muhammad saw. tidak ada lagi pemusnahan massal, baik dengan topan, halilintar, ataupun badai. Hal ini merupakan penghormatan bagi umat ini yang tidak pernah sunyi dari orang yang berjuang untuk Allah dengan hujjah yang nyata dan kelompok yang terus eksis di atas perintah Allah (dakwah), sampai tiba keputusan-Nya, kelompok tersebut adalah para dai. Lantaran mereka Allah menetapkan keselamatan bagi umat ini dari kebinasaan secara massal. Akan tetapi ketika di bumi ini tidak ada lagi golongan mulia di sisi Allah (para dai), maka kiamat akan segera tiba, sebagaimana tertuang dalam beberapa hadits.
قال: لا تقوم الساعة إلا على أشرار الناس
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak terjadi kiamat kecuali bila seluruh manusia berbuat keburukan.” (Muslim)
وقال: لا تقوم الساعة على أحد يقول : الله الله. وفي رواية حتى لا يقال في الأرض : الله الله .( أخرجه مسلم 1/171 شرح النووي)
Dan Bersabda Rasulullah saw., “Tidak akan terjadi kiamat bila masih ada orang yang menyebut, ‘Allah, Allah’.” Dalam riwayat yang lain, “Sampai tidak ada yang berkata lagi di muka bumi ini, ‘Allah, Allah’.” (Muslim)
وقال : ” يُقبض الصالحون الاول فالأول ويبقى حثالة كحثالة التمر أو الشعير لا يعبأ الله بهم شيئاً
Rasulullah saw. berkata, “Diwafatkan orang-orang yang saleh dari generasi pertama hingga generasi berikutnya, seperti buah kurma dan biji gandum, yang tersisa kemudian hanya yang jelek-jeleknya saja, Allah tidak terbebani sedikitpun oleh keadaan mereka.” (Bukhari)
Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa terjadinya kiamat berkaitan dengan hilangnya dawah dan para dainya. Tentu saja ini bukan kaitan sebab akibat, tetapi maksudnya adalah Allah senantiasa menghargai kemanusiaan dengan dakwah dan para dainya. Selama dakwah dan para dainya terus berlanjut, maka tujuan penciptaan di muka bumi ini masih terus berlangsung. Namun, bila dakwah dan para dainya lenyap, maka manusia telah rugi karena alasan kebaikan keberadaannya di muka bumi ini pun menjadi hilang dan tidak berlaku lagi. Demikianlah, sesungguhnya manusia berada di antara dua titik, titik permulaan atau titik penghabisan.
Titik permulaan diisyaratkan dalam firman Allah: وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة “Dan ketika berkata Tuhanmu kepada malaikat sesungguhnya aku menjadikan di muka bumi ini seorang khalifah.” Sedangkan titik penghabisan diisyaratkan dalm hadits Rasulullah saw.,
إن الله يبعث ريحاً من اليمن ألين من الحرير ، فلا تدع أحداً فيه مثقال حبة من إيمان إلا قبضته. (أخرجه مسلم 1/132 شرح النووي).
“Sesungguhnya Allah akan mengirim aroma wewangian dari Yaman yang lebih lembut dari sutra, tidaklah engkau meninggalkan seseorang padanya keimanan seberat biji sawi, melainkan engkau telah menangkapnya (menyelamatkannya).” (Muslim)
Imam Muslim telah mengeluarkan hadits dari Abdurrahman bin Syamasah r.a., “Ketika aku bersama Maslamah bin Makhlad dan bersamanya Abdullah bin Amr bin Ash, berkata Abdullah,
فقال عبدالله : لا تقوم الساعة إلا على شرار الخلق، هم شر من أهل الجاهلية، لا يدْعون الله بشيء إلا رده الله عليهم
“Tidak akan terjadi kiamat kecuali kepada manusia durjana, bahkan mereka lebih durjana dari kaum jahiliyah, doa mereka ditolak oleh Allah.” (Muslim)
Tiba-tiba datanglah Uqbah bin Amir, maka berkata Maslamah, “Hai Uqbah, dengarlah apa yang diucapkan Abdullah.” Uqbah menjawab, “Dia lebih tahu, sedangkan saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda,
فسمعت رسول الله يقول: لا تزال عصابة من أمتي يقاتلون على أمر الله، قاهرين عدوهم، لا يضرهم من خالفهم حتى تأتيهم الساعة وهم على ذلك، قال عبد الله: ثم يبعث الله ريحاً كريح المسك مسُّها مسُّ الحرير ، فلا تترك نفساً في قلبه مثقال حبة من إيمان إلا قبضته، ثم يبقى شرار الناس عليهم تقوم الساعة. ( أخرجه مسلم 3/1524 ، شرح النووي)
“Tidaklah sekelompok dari umatku berperang atas perintah Allah, mendesak musuh-musuh mereka, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menentang mereka, sampai datangnya kiamat, sementara mereka tetap seperti itu.”
Abdullah berkata, “Kemudian Allah mengirim aroma seperti aroma kasturi, sentuhannya seperti sentuhan sutra, maka tidaklah engkau tinggalkan seseorang di dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji sawi melainkan engkau menangkapnya, kemudian yang tersisa hanyalah manusia durjana, karena merekalah terjadi kiamat.” (Muslim)
Dapat disimpulkan dari riwayat tersebut ada satu petunjuk bahwa ada korelasi antara kelompok orang beriman dengan datangnya kiamat dan datangnya kiamat karena kedurjanaan manusia. Pengertian dari korelasi yang dimaksud adalah semakin dekatnya kiamat, sebagaimana pendapat Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits ini. Sedangkan hadits lain yang menyatakan:
الآخر لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق إلى يوم القيامة فليس مخالفاً لأن معنى هذا أنهم لا يزالون على الحق حق تقبضهم هذه الريح
“Tidaklah sekelompok umatku terus eksis di atas kebenaran hingga hari kiamat”, tidak bertentangan, karena makna hadits mereka senantiasa di atas kebenaran, yaitu kebenaran mereka memperoleh aroma kasturi.” (Muslim)
Manakala seorang dai telah mencanangkan dirinya untuk berjihad dan mendorong dirinya untuk berkorban di jalan Allah, dan memasuki satu celah untuk menghadapi musuh-musuh Islam, maka keahlian seperti itu akan menjadikan dirinya lebih mampu bermanuver, dan ia dengan izin Allah akan menang dan selamat, sementara musuhnya akan hina binasa. Keselamatan yang dimaksud bukanlah keselamatan individu dari penyakit dan penderitaan, tetapi yang dimaksud adalah keselamatan jamaah dan fikrah pada akhir perjuangan. Adapaun di akhirat nanti gambaran keselamatan adalah kenikmatan permanen dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, di dalamnya terdapat sesuatu di mana mata (ketika di dunia) tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarkannya dan tidak pernah terlintas dalam hati siapapun.